Uniswap: Kontroversi KYC dan Biaya Baru yang Mengguncang Dunia DeFi!

Uniswap: Kontroversi KYC dan Biaya Baru yang Mengguncang Dunia DeFi!

Uniswap, bursa terdesentralisasi terbesar di dunia, tengah menjadi sorotan. Dua isu besar muncul, yakni fitur KYC (Know Your Customer) dan penambahan biaya baru. Kontroversi ini memicu perdebatan panas di komunitas DeFi. Apa dampaknya bagi kamu sebagai pengguna? Yuk, kita ulas lebih dalam.

Fitur KYC: Perlindungan atau Penghambat?

Fitur KYC dan whitelist menjadi topik perdebatan hangat di Uniswap. Fitur ini diusulkan oleh komunitas sebagai upaya untuk mencegah aktivitas ilegal dan mematuhi sanksi internasional. Namun, tidak semua pihak setuju. Beberapa pihak khawatir fitur ini akan menjadi “lereng yang licin” bagi protokol Uniswap.

Mereka berpendapat bahwa dengan menciptakan sistem berizin, regulator dapat mendorong penggunaan fitur ini bahkan dalam konteks yang tidak diperlukan.

Baca Juga: Kode Uniswap V4 Diluncurkan, Siap Guncang Dunia DeFi dengan Kolam Likuiditas Baru?

Namun, Jongwon Park, pengembang blockchain yang mengajukan kode Hooks ini, berpendapat sebaliknya.

Menurutnya, alat berizin di blockchain adalah hal yang tak terhindarkan. Ia menambahkan bahwa Uniswap tetap tanpa izin dan kontraknya “tidak dapat diubah pada tingkat protokol”. Belum diketahui kolam mana yang akan mengintegrasikan fitur ini.

Biaya Baru: Langkah Maju atau Mundur?

Prediksi Harga Uniswap 2030
Sumber: Telegaon

Uniswap baru-baru ini mengumumkan penambahan biaya sebesar 0,15% pada swap antarmuka web dan dompet crypto mereka. Biaya ini hanya berlaku untuk sejumlah token tertentu dan hanya berlaku jika swap dilakukan melalui antarmuka Uniswap Labs. Meski beberapa pihak menyambut baik langkah ini, banyak juga yang menentang.

Gabriel Shapiro, penasihat hukum untuk Delphi Labs, menilai bahwa investor Uniswap telah “secara konsisten menolak membiarkan akumulasi nilai ke [Uniswap], tetapi pada saat yang sama telah menggunakan token untuk mendapatkan likuiditas.”

Pendapat ini juga didukung oleh Nic Carter, investor VC Web3, yang menilai bahwa pemegang saham Uniswap memiliki lebih banyak ekuitas daripada token UNI, sehingga menciptakan ketidaksejajaran antara kedua kelompok tersebut.

Paragraf Penutup

Kontroversi ini menunjukkan bahwa dunia DeFi, termasuk Uniswap, masih dalam tahap evolusi. Meski ada tantangan dan perdebatan, yang jelas adalah bahwa Uniswap dan platform DeFi lainnya terus berusaha untuk memberikan layanan terbaik bagi penggunanya. Bagaimana pendapatmu tentang fitur KYC dan biaya baru ini?

Baca Juga: Analisa dan Prediksi Harga Uniswap (UNI) 2023, 2025, 2030: Bisa Naik Hingga $151,54? Ini Alasannya!

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer:
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi