Skandal Pencurian Digital: Thunder Terminal Kehilangan $240K, Hacker Mengancam!

Skandal Pencurian Digital: Thunder Terminal Kehilangan $240K, Hacker Mengancam!

Dunia crypto kembali diguncang oleh insiden keamanan yang mengejutkan. Platform perdagangan crypto Thunder Terminal mengalami kerugian sebesar $240.000 akibat serangan siber, namun mereka mengklaim bahwa dana pengguna telah aman. Sebaliknya, sang peretas menantang klaim tersebut dengan mengancam akan merilis data pengguna kecuali tebusan dibayar. Simak berita lengkapnya berikut ini!

Penyerangan Siber Menggemparkan Pengguna

penyerangan siber thunder terminal
Sumber: Akun X Thunder Terminal

Thunder Terminal, platform perdagangan crypto yang baru diluncurkan oleh Eversify Labs pada akhir tahun 2022, mengalami serangan siber yang mengakibatkan kerugian sejumlah 86,5 Ether (ETH) dan 439 Solana (SOL). Insiden ini terjadi dalam waktu singkat, hanya sembilan menit, dan mengakibatkan kerugian total sekitar $240.000.

Serangan ini berasal dari akses ilegal ke URL koneksi MongoDB, yang memungkinkan peretas untuk melakukan penarikan dana atas nama pengguna. Thunder Terminal menegaskan bahwa dari 14.000 dompet, hanya 114 yang terdampak. Mereka berjanji akan mengganti kerugian pengguna yang terdampak sepenuhnya, serta memberikan insentif tambahan berupa bebas biaya transaksi dan kredit platform sebesar $100.000.

Namun, peretas meninggalkan pesan di Etherscan yang menuduh bahwa klaim Thunder Terminal adalah “semua bohong” dan menuntut tebusan sebesar 50 ETH ($110.000) untuk penghapusan data yang diklaim mereka miliki.

Baca Juga: KyberSwap Dibobol Hacker, Binance Bayar Denda $4 Miliar, Ada Apa?

Klaim Peretas vs Penegasan Thunder Terminal

data thunder terminal
Sumber: Cointelegraph

Sementara Thunder Terminal berusaha menenangkan penggunanya dengan menjamin keamanan data, peretas tersebut menantang klaim tersebut dengan keras. Dalam memo yang ditinggalkan di Etherscan, peretas tersebut mengklaim memiliki semua data pengguna dan menuntut tebusan.

Thunder Terminal, di sisi lain, menegaskan bahwa mereka tidak memiliki akses ke kunci privat pengguna, sehingga tidak mungkin bagi peretas untuk mendapatkan akses tersebut. Thunder Terminal juga menyatakan kesiapannya untuk mengambil langkah-langkah keamanan tambahan dan terbuka untuk bernegosiasi dengan peretas demi pengembalian dana yang dicuri.

Data Etherscan menunjukkan bahwa peretas telah mengirimkan total 86,3 ETH ke protokol Railgun, yang memungkinkan pengguna untuk menganonimkan transaksi mereka. Hal ini menambah kerumitan dalam pelacakan dana yang dicuri.

Baca Juga: Identitas Hacker yang Bobol Poloniex Terungkap, Hadiah $10 Juta Menanti!

Keamanan Crypto Terus Diuji

Insiden ini menyoroti tantangan keamanan yang terus dihadapi oleh industri crypto. Di tengah insiden Thunder Terminal, platform DeFi Telcoin juga mengalami eksploitasi senilai $1,3 juta yang disebabkan oleh masalah implementasi proxy dompet di Polygon.

Telcoin berjanji untuk mengembalikan saldo dompet ke kondisi sebelum serangan dan menegaskan bahwa tidak ada kunci, sistem backend, atau data pengguna yang diretas.

PeckShield, sebuah firma keamanan blockchain, memperkirakan bahwa peretas berhasil mencuri sekitar $1,3 juta dalam crypto melalui eksploitasi tersebut. Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya keamanan dalam ekosistem crypto dan menjadi peringatan bagi pengguna untuk selalu waspada.

Kasus Thunder Terminal menjadi pelajaran berharga bagi komunitas crypto tentang pentingnya keamanan digital. Sementara platform berupaya memperkuat sistem mereka, pengguna juga harus proaktif dalam melindungi aset digital mereka. Perkembangan selanjutnya dari kasus ini akan menjadi fokus perhatian bagi investor dan pengamat industri.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi: