Tether Jadi Alat Favorit Para Penjahat Siber di Asia Tenggara

Tether Jadi Alat Favorit Para Penjahat Siber di Asia Tenggara

Apakah kamu tahu bahwa mata uang crypto kini menjadi senjata baru bagi para penjahat di dunia maya? Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa Tether, salah satu mata uang crypto paling banyak diperdagangkan, kini menjadi alat utama bagi kegiatan pencucian uang dan penipuan di Asia Tenggara.

UNODC: Tether dan Kasino Ilegal Mengguncang Ekonomi Asia Tenggara

Laporan dari Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) menyoroti penyalahgunaan mata uang crypto Tether dalam ekonomi ilegal yang berkembang pesat di Asia Tenggara. Tether, yang nilainya diikat dengan dolar AS, menjadi pilihan utama karena stabilitas, kemudahan penggunaan, anonimitas, dan biaya transaksi yang rendah.

Kasino ilegal dan penipuan romantis yang dikenal dengan “pig butchering” adalah beberapa contoh ekonomi gelap yang memanfaatkan Tether.

Baca Juga: GameStop Hentikan Layanan Pasar Crypto: Apa yang Terjadi?

Para penjahat memilih lokasi operasi mereka di zona ekonomi khusus yang kurang diatur atau di bawah kendali kelompok bersenjata otonom. Industri perjalanan khusus pun berkembang di sekitar kasino-kasino ini, dengan operator “junket” yang menyediakan lebih dari sekadar perjalanan dan akomodasi.

Peran Bursa Crypto Lokal dan Tantangan Penegakan Hukum

bursa crypto indonesia
Sumber: Clever Robot

Bursa crypto lokal mungkin berkontribusi pada pencucian uang melalui celah besar dalam atribusi kejahatan di blockchain. Laporan tersebut menyoroti adanya laporan palsu oleh bursa crypto dan praktik “wash trading” yang meningkatkan volume transaksi crypto, sehingga mempersulit identifikasi transaksi ilegal.

Penegakan hukum menghadapi tantangan kompleks karena inovasi teknologi blockchain yang digunakan oleh kejahatan terorganisir. Laporan UNODC menyarankan peningkatan kesadaran dan kebijakan untuk memerangi ketidakpatuhan finansial di kawasan ini. Tether sendiri telah berupaya proaktif bekerja sama dengan penegak hukum AS dalam menanggapi masalah ini.

Regulasi Crypto dan Dampaknya pada Kejahatan Siber

Regulasi crypto yang masih tertinggal atau hampir tidak ada menjadi sorotan dalam laporan UNODC. Jeremy Douglas dari UNODC menyatakan bahwa kejahatan terorganisir telah menciptakan sistem perbankan paralel dengan memanfaatkan teknologi baru. Ini menunjukkan bahwa kejahatan siber telah memanfaatkan celah regulasi yang ada.

Meskipun crypto seperti Tether dianggap sebagai aset yang stabil, kekhawatiran terhadap anonimitasnya yang memungkinkan aktivitas kriminal tetap menjadi perhatian utama bagi pembuat kebijakan. Data dari perusahaan analitik blockchain menunjukkan bahwa kurang dari 1% dari semua pembayaran crypto bersifat ilegal, namun peningkatan pengawasan terhadap sektor ini terus berlanjut.

Paragraf Penutup

Kasus penggunaan Tether dalam kegiatan ilegal di Asia Tenggara telah membuka mata dunia akan pentingnya regulasi yang lebih ketat dalam industri crypto. Seiring dengan berkembangnya teknologi, penegakan hukum dan kebijakan harus beradaptasi untuk menjaga keamanan ekonomi digital yang terus tumbuh.

Baca Juga: Indiana Berikan Lampu Hijau untuk Hak-Hak Crypto Kamu!

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer:
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi