Stablecoin: Mata Uang Digital yang Menguasai Pasar Treasury AS dan Risiko Depresiasinya

Stablecoin: Mata Uang Digital yang Menguasai Pasar Treasury AS dan Risiko Depresiasinya

Stablecoin, mata uang digital yang masih dalam tahap awal perkembangan, kini menjadi pemegang terbesar keenam belas Treasury AS. Dengan nilai yang terus meningkat, stablecoin menunjukkan potensi besar dalam mendominasi pasar mata uang digital dan mempengaruhi ekonomi global.

Stablecoin dan Dominasi Treasury AS

pasar stablecoin

Stablecoin kini menjadi pemegang terbesar keenam belas Treasury AS, dengan total gabungan lebih dari $100 miliar. Menurut data, stablecoin kini memiliki lebih banyak Treasury daripada beberapa negara besar seperti Norwegia, Korea Selatan, Jerman, Meksiko, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Meski masih dalam tahap awal, stablecoin telah menunjukkan potensi besar dalam mendominasi pasar mata uang digital dan mempengaruhi ekonomi global. Meski mendapat kritik dari beberapa politisi AS, stablecoin justru dapat menjadi hal yang baik bagi dominasi dolar dan permintaan Treasury.

Baca Juga: 7 Stablecoin Terpopuler Saat Ini, USDC Urutan Keberapa?

Dengan volume perdagangan harian yang setara dengan mata uang berdaulat terbesar ke-22 di dunia, stablecoin memberikan akses instan ke dolar bagi negara-negara yang sebelumnya tidak memilikinya.

Selain itu, stablecoin dapat dilacak di teknologi blockchain, berbeda dengan uang tunai yang tidak dapat dilacak. Hal ini dapat membantu dalam melacak aktivitas ilegal dan pendanaan terorisme.

Risiko Depresiasi Stablecoin

Meski memiliki potensi besar, stablecoin bukanlah tanpa risiko. Salah satu risiko terbesar adalah depresiasi dari nilai pegging.

Dalam studi terhadap 5 stablecoin, kejadian depresiasi di mana nilai turun di bawah $1 tampaknya lebih sering terjadi dan berlangsung lebih lama daripada kejadian di mana nilai meningkat di atas $1.

Kejadian depresiasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:

  1. Volatilitas pasar
  2. Stres likuiditas
  3. Penurunan cadangan
  4. Penyalahgunaan cadangan
  5. Peningkatan tiba-tiba dalam permintaan
  6. Kurangnya transparansi
  7. Kinerja pihak ketiga
  8. Cacat teknologi dan desain
  9. Kerentanan terhadap skema peretasan
  10. Risiko operasional
  11. Adopsi terbatas
  12. Ketidakpastian regulasi atau tindakan hukum
  13. Peristiwa pasar keuangan.

Paragraf Penutup

Stablecoin telah tumbuh dalam popularitas dan memainkan peran penting dalam ekosistem crypto. Namun, mereka tidak kebal terhadap fluktuasi harga, kapitalisasi pasar, dan likuiditas. Memahami kinerja dan karakteristik historis stablecoin sangat penting bagi investor dan peserta pasar.

Baca Juga: Kerjakan Regulasi Stablecoin Baru, Hong Kong Tolak Stablecoin Satu Ini

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer:
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi