Sempat Tolak Cryptocurrency, Kini Maroko Selesaikan Regulasi Crypto

author:

Sempat Tolak Cryptocurrency, Kini Maroko Selesaikan Regulasi Crypto

Dilansir Coindesk, pada November 2017 lalu, Kantor Valuta Asing Maroko menyatakan bahwa transaksi mata uang virtual, seperti cryptocurrency merupakan pelanggaran terhadap peraturan valuta asing dan akan dikenakan sanksi serta denda. Pada saat itu, regulator keuangan terus memandang cryptocurrency dengan skeptis, bahkan ketika bank sentral negara Maroko sedang menyelidiki manfaat dari mata uang digital nasional (CBDC) yang dikeluarkan pemerintah.

Meski dilarang, faktanya kemajuan cryptocurrency di negaranya tak bisa terbantahkan. Dilaporkan Finbold, kini Maroko siap mengadopsi crypto dengan cara mengerjakan kerangka peraturan terakhir untuk mengendalikan pasar crypto di negaranya.

Maroko Sudah Rancang Regulasi Crypto Sejak Tahun Lalu

Menurut laporan Cointelegraph per 3 Januari 2023, Maroko mungkin akan merilis regulasi crypto dalam waktu dekat. Dokumen regulasi crypto diketahui sudah ditulis oleh Bank Sentral dan akan didiskusikan dengan para stakeholders.

Akhir bulan lalu, saat konferensi pers, Gubernur Bank Sentral Maroko, Abdellatif Jouahiri, mengumumkan serangkaian diskusi antara Bank-Al-Maghrib (BAM) dan para pelaku pasar. Para regulator, seperti Otoritas Pasar Modal Maroko (AMMC), Otoritas Pengawas Asuransi dan Jaminan Sosial (ACAPS), juga akan berpartisipasi. Dalam diskusi tersebut, para regulator akan mendiskusikan penerapan hukum crypto yang akan berlaku.

Rencana regulasi crypto ini telah ramai diberitakan sejak 27 Juni 2022. Saat itu, Bank sentral negara Maroko, Bank Al-Maghrib (BAM), sudah mulai berkonsultasi dengan lembaga keuangan global untuk merancang prospek regulasi crypto di negaranya. Tak berjalan sendiri, regulasi crypto yang dirancang oleh Maroko adalah hasil kolaborasi dengan institusi dan beberapa negara yang sudah mengadopsi crypto terlebih dahulu.

Berkolaborasi Dengan Institusi Besar dan Beberapa Negara

Menurut Jouahiri, BAM bekerja sama dengan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia saat mengerjakan dokumen regulasi crypto. Dilansir Finbold, IMF menjadi pusat dalam menyerukan negara-negara untuk mengatur sektor crypto, sekaligus memberikan beberapa catatan terkait risiko crypto yang perlu diperhatikan negara. Selain itu, pejabat Maroko juga telah menghubungi bank sentral Prancis, Swedia, dan Swiss untuk mempelajari pengalaman negara tersebut dalam mengatur aset digital.

Draf terkait regulasi crypto yang tengah dikerjakan Maroko akan menjelaskan definisi crypto yang disesuaikan dengan konteks Maroko. Lebih lanjut, regulasi crypto di Maroko nantinya bertujuan untuk melindungi individu tanpa membatasi inovasi. Meskipun perincian RUU terkait crypto belum diungkapkan kepada publik, regulasi crypto di Maroko akan ketat seperti undang-undang saat ini, yang masih melarang perdagangan crypto.

Baca juga: Serobot Posisi El Salvador, Australia Jadi ATM Crypto Hub Terbesar ke-4 di Dunia!

Regulasi Crypto di Maroko Fokus Untuk Melindungi Kepentingan Pengguna

Salah satu bocoran terkait isi regulasi crypto di Maroko ini menunjukkan bahwa peraturan yang dibuat tidak akan melarang cryptocurrency, tetapi akan fokus untuk mempromosikan inovasi di sektor tersebut sekaligus melindungi konsumen. Beberapa masalah yang ingin diatasi oleh Maroko adalah pencucian uang dan pembiayaan anti-terorisme.

Sebelumnya, gubernur BAM, Abdul Latif Al Jawhari telah mencatat bahwa mengadopsi cryptocurrency di negara tersebut adalah masalah “kapan” bukan “jika”.

“Saat ini, kami tidak dapat mengadopsi cryptocurrency karena kurangnya kerangka peraturan dan legislatif, baik secara nasional maupun internasional. G20 dan banyak negara menekankan pentingnya memiliki kerangka peraturan crypto, serta kerangka peraturan untuk CBDC (Central Bank Digital Currencies),” kata Jawhari, dalam laporan Finbold.

Cryptocurrency Semakin Populer di Maroko

Cryptocurrency Semakin Populer di Maroko
Sumber: Freepik

Dicatat oleh Cointelegraph, pada tahun 2022, Maroko menjadi pasar crypto dengan pertumbuhan tercepat di Afrika Utara. Pada tahun 2021, dicatat terdapat 2,4% populasi yang berinvestasi aset digital, dan naik menjadi 3,1% pada tahun 2022.

Pada tahun 2020 lalu, perusahaan besar, Soluna Technologies, menerapkan ladang angin bertenaga blockchain pertama di Dakhla, distrik Maroko Selatan yang paling berangin. Kelebihan energi dari peternakan ini menggerakkan operasi penambangan crypto.

Dalam siaran persnya baru-baru ini, BAM juga mengakui bahwa sektor mata uang crypto semakin populer di Maroko. Meski begitu, bank tetap menyatakan bahwa pengguna harus berhati-hati terhadap risiko yang terkait dengan sektor tersebut.

Menariknya, Maroko menjadi jajaran negara yang melarang perdagangan Bitcoin pada tahun 2017, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa popularitas aset tersebut telah tumbuh dengan peningkatan nilai yang cukup signifikan pada beberapa tahun terakhir. Popularitas yang meningkat ini mendorong pemerintah tidak bisa lagi mengabaikan angka peminat pengguna cryptocurrency yang semakin melonjak.

Laporan terbaru dari Chainalysis mengungkapkan bahwa pasar crypto di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) menjadi yang paling cepat berkembang di dunia. Volume transaksi di wilayah MENA mengungkapkan pengguna menerima $566 miliar dalam crypto dalam jangka waktu Juli 2021 hingga Juni 2022, yang mana meningkat 48%.


Referensi: