Revolusi Fintech Terhambat oleh Ketidakpercayaan Terhadap Bank? Ini Penjelasannya!

Revolusi Fintech Terhambat oleh Ketidakpercayaan Terhadap Bank? Ini Penjelasannya!

Kehadiran mata uang kripto dan teknologi finansial (fintech) digadang-gadang mampu menjadi solusi atas kurangnya inklusi keuangan di negara-negara berkembang. Namun, sebelum itu terjadi, diperlukan upaya untuk membangun kepercayaan dari masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan. Simak berita lengkapnya berikut ini!

Ketidakpercayaan terhadap Bank

Salah satu tantangan terbesar dalam mendorong inklusi keuangan adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan formal, seperti bank. Hal ini terutama terjadi di negara-negara dengan tingkat inflasi yang tinggi, seperti Argentina.

web summit qatar
Kristina Lucrezia Cornèr dari Cointelegraph membahas inklusi keuangan dengan Juan Pablo Ortega dan CEO Policybazaar, Yashish Dahiya.

Masyarakat di negara-negara tersebut lebih memilih menyimpan uang tunai secara fisik daripada menabung di bank. Juan Pablo Ortega, salah satu pendiri dan CEO platform pembayaran daring Yuno, menjelaskan bahwa ketidakpercayaan terhadap bank di negara-negara seperti Argentina sudah mengakar kuat.

Akibatnya, masyarakat tidak mau membuka rekening bank karena tidak percaya pada keamanan dan kredibilitas bank. Ortega mencontohkan seorang pedagang taco yang membutuhkan pinjaman sebesar $100 untuk mengembangkan usahanya.

Dalam sistem keuangan tradisional, pedagang tersebut mungkin harus membayar bunga pinjaman sebesar 300%. Hal ini tentu saja memberatkan dan semakin memperlebar kesenjangan ekonomi.

Baca Juga: Era Baru Keuangan Digital: Menggali Dunia Crypto Fintechzoom

Upaya Fintech dalam Meningkatkan Inklusi Keuangan

fintech inklusi keuangan
Sumber: Akun X Web Summit Qatar

Untungnya, Ortega mulai melihat adanya revolusi inklusi keuangan yang digerakkan oleh perusahaan fintech di Amerika Latin, Asia, dan beberapa bagian Afrika. Meskipun demikian, masih ada tantangan yang harus dihadapi.

Salah satu contoh perusahaan fintech yang berhasil dalam meningkatkan inklusi keuangan adalah Nubank, sebuah bank digital asal Brasil. Nubank telah berhasil menarik banyak nasabah dengan menawarkan layanan keuangan yang mudah diakses dan terjangkau. Di India, pemerintah juga fokus pada peningkatan inklusi keuangan.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, berencana untuk mengeluarkan 750 juta penduduk India dari kemiskinan dalam 15 tahun ke depan. Inklusi keuangan akan memainkan peran penting dalam keberhasilan rencana tersebut.

Baca Juga: Startup Fintech Kamerun Koree Raih Dana Segar, Siap Gebrak Pasar!

Peran Mata Uang Kripto dalam Inklusi Keuangan

Banyak negara berkembang yang menempati peringkat tinggi dalam hal adopsi mata uang kripto. India, Nigeria, dan Vietnam saat ini memimpin dunia dalam adopsi mata uang kripto, menurut Chainalysis’ 2023 Global Crypto Adoption Index.

Namun, di sisi lain, pemerintah India baru-baru ini melarang beberapa bursa mata uang kripto, seperti Binance, Kraken, dan KuCoin, karena gagal mematuhi pedoman dari unit intelijen keuangan negara tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa peran mata uang kripto dalam inklusi keuangan masih belum jelas.

Kesimpulan

Ketidakpercayaan terhadap bank menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mendorong inklusi keuangan di negara-negara berkembang. Namun, perusahaan fintech dan pemerintah mulai mengambil langkah-langkah untuk mengatasi tantangan ini.

Dengan membangun kepercayaan dan menawarkan layanan keuangan yang mudah diakses dan terjangkau, inklusi keuangan dapat ditingkatkan dan kesenjangan ekonomi dapat dipersempit.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi