USDT Jadi Sarana Utama Kegiatan Ilegal di Asia Tenggara? Ini Faktanya!

USDT Jadi Sarana Utama Kegiatan Ilegal di Asia Tenggara? Ini Faktanya!

Pernahkah kamu mendengar tentang penggunaan mata uang crypto dalam aktivitas ilegal? Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai peningkatan penggunaan Tether USDT sebagai alat pembayaran dalam kegiatan pencucian uang dan penipuan di Asia Tenggara. Laporan yang dirilis pada hari Senin tersebut menyoroti bagaimana mata uang crypto ini menjadi pilihan utama bagi para pelaku kejahatan. Simak berita lengkapnya berikut ini!

Platform Judi Online dan Pencucian Uang

Menurut laporan PBB yang dikutip oleh Financial Times, platform judi online, khususnya yang beroperasi secara ilegal, menjadi salah satu kanal utama bagi pencucian uang menggunakan crypto, dengan Tether USDT sebagai mata uang yang sering digunakan.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ilegal ini tidak hanya terbatas pada judi online, tetapi juga meluas ke penipuan romantis yang dikenal sebagai “pig butchering”. Pada bulan November, Tether mengungkapkan bahwa mereka telah membantu Departemen Kehakiman AS dengan membekukan sekitar $225 juta dalam USDT yang terkait dengan kelompok perdagangan manusia internasional di Asia Tenggara.

Kelompok ini bertanggung jawab atas skema penipuan “pig butchering”. Hal ini menunjukkan bahwa Tether telah aktif dalam upaya penegakan hukum terhadap kegiatan ilegal yang melibatkan mata uang crypto mereka.

Baca Juga: CEO Circle (USDC) Mengharapkan AS Sahkan Undang-undang Stablecoin di 2024

Penegakan Hukum dan Pemulihan Aset

usdt
Sumber: VOI

Laporan PBB juga mencatat bahwa aparat penegak hukum telah berhasil mengganggu beberapa jaringan pencucian uang yang terlibat dalam transfer dana Tether ilegal dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai contoh, pada bulan Agustus lalu, otoritas Singapura melakukan operasi yang berhasil membongkar salah satu jaringan tersebut, yang mengakibatkan pemulihan sekitar $735 juta dalam bentuk tunai dan crypto.

Kegiatan ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pihak berwenang dalam memerangi kejahatan yang berkaitan dengan mata uang crypto. Meskipun demikian, tantangan tetap ada mengingat sifat desentralisasi dan anonimitas yang melekat pada transaksi crypto, yang seringkali dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan.

Baca Juga: TUSD Lepas dari Ikatan Dolar, Apa yang Terjadi dan Pengaruhnya Terhadap Pasar Crypto?

Respons Tether Terhadap Laporan PBB

Menanggapi laporan PBB, Tether mengeluarkan pernyataan yang menyatakan kekecewaan mereka terhadap penilaian yang hanya menyoroti peran USDT dalam aktivitas ilegal.

Tether menekankan bahwa laporan tersebut mengabaikan kontribusi USDT dalam membantu perekonomian negara berkembang yang sering diabaikan oleh sistem keuangan global karena dianggap tidak menguntungkan.

Tether juga menambahkan bahwa penggunaan blockchain publik dalam transaksi USDT memungkinkan pelacakan transaksi secara detail, yang seharusnya membuat USDT menjadi pilihan yang tidak praktis untuk aktivitas ilegal. Pernyataan ini menunjukkan upaya Tether untuk menegaskan posisi mereka sebagai mata uang crypto yang transparan dan bertanggung jawab.

Kesimpulan

Kasus penggunaan Tether USDT dalam kegiatan ilegal di Asia Tenggara ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya pengawasan dan regulasi yang lebih ketat dalam ekosistem crypto. Meskipun ada manfaat yang ditawarkan, risiko yang terkait dengan mata uang crypto tidak boleh diabaikan, dan kerja sama internasional menjadi kunci dalam memerangi kejahatan crypto.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi