Nigeria Jadi Raja Transaksi Crypto P2P di Dunia! Apa yang Mendorong Adopsi Crypto Nigeria?

Nigeria Jadi Raja Transaksi Crypto P2P di Dunia! Apa yang Mendorong Adopsi Crypto Nigeria?

Menurut Laporan Geografi Crypto 2023 oleh Chainalysis, Nigeria menduduki peringkat tertinggi dalam volume transaksi peer-to-peer (P2P) crypto. Meskipun sub-Sahara Afrika hanya menyumbang 2,3% dari volume transaksi crypto global, Nigeria menunjukkan peningkatan signifikan dalam adopsi crypto.

Laporan ini mengungkapkan bagaimana negara-negara dengan ekonomi crypto terkecil malah memimpin volume P2P secara global.

Metodologi Chainalysis Mengungkap Fakta

Chainalysis menggunakan metodologi yang mempertimbangkan volume transaksi P2P terhadap paritas daya beli (PPP) dan jumlah pengguna internet. Ini menunjukkan bahwa warga di beberapa negara menempatkan porsi yang lebih besar dari kekayaan mereka ke dalam transaksi crypto P2P.

Tanpa mempertimbangkan PPP per kapita dan jumlah pengguna internet, negara-negara kaya akan mendominasi peringkat adopsi crypto. Metodologi ini penting karena menyoroti negara-negara di mana rata-rata orang lebih banyak mengadopsi crypto.

Baca Juga: Kebijakan Blockchain Nasional Nigeria Dapat Lampu Hijau dari Pemerintah

Ini berbeda dengan hanya melihat volume transaksi yang tinggi, yang tidak sepenuhnya mencerminkan tingkat adopsi crypto yang sebenarnya. Dengan cara ini, Chainalysis dapat menyoroti negara-negara dengan adopsi crypto yang sebenarnya tinggi, bukan hanya berdasarkan nilai transaksi.

Adopsi Crypto di Tengah Inflasi Tinggi

nigeria dan crypto

Nigeria mengalami inflasi yang sangat tinggi, mencapai 26,7% pada tahun 2023, yang merupakan yang tertinggi sejak tahun 2005. Hal ini mendorong warga Nigeria untuk mencari cara melindungi tabungan mereka, dan crypto, khususnya stablecoin, menjadi pilihan.

Peningkatan nilai transaksi P2P di Nigeria dikaitkan dengan penciptaan kekayaan dan perlindungan terhadap inflasi. Bukan hanya di Nigeria, negara-negara lain seperti Ghana dan Argentina juga mengalami situasi serupa.

Di Ghana, inflasi mencapai 40,1% pada Agustus 2023, sementara Argentina menghadapi krisis mata uang dengan penurunan nilai peso hingga 80% terhadap dolar. Di kedua negara ini, crypto menjadi alat yang digunakan warga untuk menjaga nilai tabungan mereka.

Adopsi Crypto yang Sebenarnya

Adopsi crypto yang sebenarnya tercermin dari bagaimana dan mengapa orang menggunakan crypto. Di Argentina, sekitar 5 juta orang menggunakan crypto sebagai alat transaksi utama. Ini menunjukkan bahwa crypto telah menjadi arus utama di sana, meskipun secara global, transaksi crypto di negara berkembang mungkin tidak terlihat signifikan.

Data mentah mungkin tidak menunjukkan pergerakan signifikan dari pasar berkembang dalam nilai transaksi crypto, namun penggunaan dan alasan di baliknya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kasus penggunaan crypto yang sebenarnya. Ini juga memberikan wawasan tentang bagaimana evolusi crypto mungkin terlihat di masa depan.

Paragraf Penutup

Laporan Chainalysis mengungkapkan bahwa meskipun sub-Sahara Afrika dan pasar berkembang lainnya mungkin tidak mendominasi dalam hal nilai transaksi crypto, mereka memimpin dalam hal adopsi crypto yang sebenarnya.

Ini menunjukkan pentingnya crypto sebagai alat hedging terhadap inflasi dan sebagai sarana transaksi di tengah ketidakstabilan ekonomi.

Baca Juga: Sempat Batasi Penarikan Uang, Nigeria Kini Larang Penuh Penarikan Uang Tunai! Crypto Solusinya?

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer:
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi