NEAR Protocol: Sang Penantang Ethereum yang Siap Meroket

NEAR Protocol: Sang Penantang Ethereum yang Siap Meroket

Jakarta, Pintu News – Dalam dunia mata uang crypto, persaingan antar aset digital semakin ketat. Salah satu altcoin yang sedang menjadi sorotan adalah NEAR Protocol (NEAR). Analis crypto terkenal, Bluntz, baru-baru ini mengungkapkan pandangan bullish-nya terhadap NEAR. Menurutnya, NEAR memiliki potensi untuk menjadi salah satu mata uang crypto pertama yang mencapai titik tertinggi baru.

NEAR Protocol: Sang Pemimpin Pasar

Bluntz, seorang analis crypto dengan lebih dari 257.000 pengikut di media sosial, menilai bahwa NEAR Protocol saat ini sedang outperforming aset crypto lainnya. Ia melihat bahwa NEAR terus bergerak naik dan mencapai titik tertinggi baru, sementara aset crypto lainnya sedang mengalami stagnasi.

Baca Juga: Hari Q Semakin Dekat: Bisakah Ethereum Selamat dari Krisis Kuantum?

Bluntz berpendapat bahwa NEAR adalah pemimpin pasar crypto saat ini dan akan menjadi salah satu yang pertama mencapai titik tertinggi baru. Berdasarkan grafik delapan jam yang dianalisis oleh Bluntz, ia memprediksi bahwa target pertama NEAR adalah di atas $10, sekitar 40% dari level saat ini.

Ia memperkirakan NEAR akan bergerak dalam pola lima gelombang yang dimulai pada pertengahan April. Menurut teori Elliott Wave, yang sering digunakan oleh Bluntz, tren utama harga aset bergerak dalam pola lima gelombang, sedangkan koreksi terjadi dalam pola tiga gelombang.

Bitcoin: Siap Menuju Puncak Baru?

Selain NEAR Protocol, Bluntz juga memberikan pandangannya tentang Bitcoin (BTC). Ia melihat bahwa Bitcoin menunjukkan sinyal pembalikan pada grafik satu jam. Menurut grafik yang dianalisis oleh Bluntz, Bitcoin telah membentuk bullish divergence, di mana harga bergerak turun sementara Relative Strength Index (RSI) bergerak naik.

RSI adalah indikator momentum yang digunakan untuk menentukan kondisi overbought atau oversold. Bluntz masih mempertahankan pandangan risk-on dan memperkirakan bahwa Bitcoin akan mencapai titik tertinggi baru dalam satu hingga dua minggu ke depan. Bitcoin saat ini diperdagangkan pada harga $63.000.

Ethereum: Koreksi Harga dan Target Support

Ethereum: Koreksi Harga dan Target Support
Santiment

Di sisi lain, Ethereum (ETH) mengalami koreksi harga setelah gagal bertahan di atas level $3.200. Analis crypto Crypto Tony memprediksi bahwa ETH dapat turun hingga level support $2.700 jika gagal menembus level resistance $3.600. Data dari IntoTheBlock menunjukkan bahwa 79% investor Ethereum masih dalam posisi untung.

Namun, penurunan harga ETH berdampak negatif pada volume sosial dan sentimen pasar. Tekanan jual pada ETH meningkat, terlihat dari peningkatan arus masuk ETH ke bursa. Analisis grafik harian ETH menunjukkan bahwa Money Flow Index (MFI) bergerak naik, mengindikasikan potensi kenaikan harga.

Namun, indikator lainnya seperti Relative Strength Index (RSI) dan Chaikin Money Flow (CMF) bergerak turun, menunjukkan kemungkinan penurunan harga lebih lanjut. Jika terjadi koreksi harga, ETH memiliki level support kuat di dekat $3.100. Penurunan di bawah level tersebut dapat menyebabkan ETH jatuh ke $2.800 sebelum mencapai level support yang teruji di $2.700 dalam beberapa hari atau minggu mendatang.

Penutup

NEAR Protocol menjadi sorotan sebagai altcoin yang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin pasar dan mencapai titik tertinggi baru. Sementara itu, Bitcoin diperkirakan akan melanjutkan kenaikannya menuju titik tertinggi baru. Di sisi lain, Ethereum mengalami koreksi harga dan memiliki target support di $2.700 jika gagal menembus level resistance $3.600.

Baca Juga: Altcoin Dipediksi Bakal Ambruk? Investor Bitcoin Diminta Analis Siap-Siap!

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer:
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi