Kalahkan Saingannya, Market Cap Tether (USDT) Naik 20% Menjadi Rp1,2 Kuadriliun di Tengah Krisis Perbankan

author:

Kalahkan Saingannya, Market Cap Tether (USDT) Naik 20% Menjadi Rp1,2 Kuadriliun di Tengah Krisis Perbankan

Setelah pangsa pasar stablecoin USDT naik 54% pada awal Maret 2023 lalu, kini kapitalisasi pasar Tether (USDT) dikabarkan hampir mencapai $1 miliar dan mencapai puncak baru sejak peluncurannya.

Penasaran dengan peningkatan Tether (USDT)? Simak selengkapnya di bawah ini!

Market Cap USDT Naik 20% dari Tahun ke Tahun

Grafik bulanan kapitalisasi pasar USDT – Trading View

Dilansir dari Cointelegraph (17/4/23), Tether (USDT) kini muncul sebagai pemenang yang jelas di tengah krisis perbankan yang sedang berlangsung, serta di tengah tindakan keras terhadap crypto di Amerika Serikat.

Pada tanggal 17 April 2023, market cap stablecoin yang dipatok dalam dolar AS ini mencapai hampir $81 miliar atau Rp1,2 kuadriliun, hanya 1,5% di bawah rekor tertingginya yang sebesar $82,29 miliar dari tahun lalu.

Menurut lapotan, stablecoin USDT telah tumbuh sekitar 20% dari tahun ke tahun (YTD) dan sekarang terlihat sedang mengincar level tertinggi baru sepanjang masa.

Baca juga: Setelah Lakukan Upgrade Shanghai, Bagaimana Dampak dan Kelanjutan Harga ETH?

Tether (USDT) Mendominasi Saingannya

Mengutip Cointelegraph, pertumbuhan USDT terjadi karena ia mendominasi pangsa pasar dari saingan stablecoinnya, yakni USDC dan BUSD, karena adanya keyakinan dari para trader crypto bahwa operasi Tether tidak terpapar pada potensi penularan krisis perbankan.

market cap usdc
Grafik bulanan kapitalisasi pasar USDC – Trading View

Pasalnya, kapitalisasi pasar yang beredar dari USD Coin (USDC), stablecoin terbesar ke-2 ini, tercatat telah turun lebih dari 25% YTD menjadi $31,82 miliar atau Rp472 triliun, menandakan level terendahnya sejak Oktober 2021 karena Circle, fintech yang membentuk USD Coin, mengungkapkan bahwa mereka menyimpan $3,3 miliar setara dengan Rp490 triliun di Silicon Valley Bank (SVB) yang gagal.

Di sisi lain, BUSD telah menyaksikan penurunan kapitalisasi pasar sebesar 60% pada tahun 2023 menjadi sekitar $6,68 miliar atau Rp99 triliun, terendah sejak April 2021, karena Departemen Layanan Keuangan New York memerintahkan Paxos, sebuah perusahaan crypto regional, untuk menghentikan pencetakan dan penerbitannya pada Februari 2023.

Selain itu, Komisi Sekuritas dan Bursa AS menegaskan bahwa BUSD adalah sebuah “sekuritas”. Sebaliknya, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS menyatakan bahwa stablecoin adalah “komoditas”.

Pergeseran modal ini lah kemungkinan besar membantu Tether (USDT) meningkatkan dominasinya yang lebih dari 65% di sektor stablecoin global untuk pertama kalinya sejak Mei 2021, menurut data Glassnode.

tether usdt mendominasi stablecoin
Glassnode

Tron Sumbang Setengah Nilai Pasar USDT

Berdasarkan laporan Coindesk (7/4/23), Markus Thielen, kepala penelitian dan strategi di penyedia layanan crypto Matrixport, mengatakan bahwa valuasi pasar Tether (USDT) telah didorong lebih tinggi oleh “pencetakan dan penerbitan yang agresif” di jaringan Tron, yang memiliki kehadiran lebih besar di daratan Tiongkok dibandingkan dengan Ethereum, serta fokus yang lebih besar pada pergerakan uang.

Berdasarkan data yang dilacak oleh Matrixport, Tether (USDT) yang diterbitkan di Tron menyumbang lebih dari setengah nilai pasar stablecoin USDT saat ini. Tidak hanya itu, menurut Matrixport, beberapa pemegang USDC kemungkinan melakukan diversifikasi ke Tether dan Bitcoin.

Penasaran dengan daftar stablecoin populer saat ini? Cari tau selengkapnya di 7 Stablecoin Terpopuler Saat Ini, Jagoan Kamu Nomor Berapa?


*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi: