Makin Canggih, China Gunakan Blockchain untuk Verifikasi Identitas 1,4 Miliar Warganya!

Makin Canggih, China Gunakan Blockchain untuk Verifikasi Identitas 1,4 Miliar Warganya!

Apakah kamu tahu bahwa China kini mengembangkan sistem verifikasi identitas berbasis blockchain? Inovasi ini tidak hanya akan mengubah cara pendataan penduduk, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang privasi data. Mari kita selami lebih dalam bagaimana teknologi ini akan diterapkan di negara dengan populasi terbesar di dunia. Simak berita lengkapnya berikut ini!

Revolusi Identitas Digital di China

China telah mengambil langkah besar dalam mengimplementasikan teknologi blockchain untuk verifikasi identitas warganya. Sistem yang diberi nama RealDID ini dikembangkan oleh Kementerian Keamanan Publik China bekerja sama dengan Blockchain-based Service Network (BSN). Sistem ini memungkinkan warga China untuk mendaftar dan masuk ke situs web secara anonim menggunakan alamat DID dan kunci privat.

Dengan demikian, informasi pribadi dapat terlindungi dari transaksi dan data bisnis. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan data pribadi warga. RealDID akan menjadi sistem identitas desentralisasi tingkat nasional pertama di dunia. BSN, yang dioperasikan oleh Pusat Informasi Nasional China, telah bekerja sama dengan perusahaan teknologi besar seperti China Mobile dan China UnionPay untuk proyek ini.

Baca Juga: China Berniat Tingkatkan Standar Blockchain Nasional di Tahun 2025

Langkah AS Menghadapi Teknologi Blockchain China

masa depan blockchain china
Sumber: Coindesk

Di sisi lain, Amerika Serikat telah mengusulkan rancangan undang-undang yang melarang pejabat pemerintah federal bertransaksi dengan perusahaan blockchain yang berbasis di China. Rancangan undang-undang ini juga secara eksplisit melarang transaksi dengan iFinex, perusahaan induk dari Tether.

Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko keamanan nasional dan melindungi data pribadi dari akses pihak asing yang mungkin menjadi lawan. Namun, dalam perkembangan yang menarik, AS telah menghapus Lembaga Ilmu Forensik China dari daftar sanksi perdagangan.

Keputusan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama dalam memerangi perdagangan fentanyl dan bahan kimia terkait ke Amerika Serikat. China pun telah memperingatkan produsen kimianya untuk tidak memproduksi prekursor fentanyl, menekankan risiko hukum dari yurisdiksi asing.

Baca Juga: China Siap Dominasi Dunia AI dengan Meningkatkan Kekuatan Komputasi 50%!

Perusahaan China dan Eksplorasi Web3

Meskipun ada larangan perdagangan crypto di China, perusahaan teknologi besar seperti Tencent dan Huawei terus mengeksplorasi ruang Web3. Mereka telah hadir di berbagai acara crypto di seluruh dunia, baik sebagai sponsor resmi maupun peserta diam-diam. Kehadiran mereka di antara Web2 dan Web3 menunjukkan bagaimana perusahaan-perusahaan ini memanfaatkan sumber daya komputasi mereka untuk melayani startup Web3, mirip dengan cara mereka menyediakan layanan cloud untuk vertikal teknologi yang sudah mapan.

Perusahaan-perusahaan ini menunjukkan ketertarikan yang besar pada teknologi blockchain. Meskipun dihadapkan pada regulasi yang ketat, langkah mereka menunjukkan potensi besar Web3 di masa depan. Keterlibatan ini juga menandakan bahwa China tidak sepenuhnya meninggalkan ruang inovasi teknologi terbaru.

Dengan langkah besar China dalam mengadopsi teknologi blockchain untuk verifikasi identitas, kita menyaksikan era baru dalam pengelolaan data pribadi. Bagaimana dampaknya terhadap privasi dan keamanan data warga masih menjadi pertanyaan yang akan terjawab seiring waktu. Namun, satu hal yang pasti, inovasi ini akan menjadi titik balik dalam sejarah identitas digital.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi: