India Wajib Membayar Impor Minyak dari Rusia Menggunakan Yuan China? Kenapa?

Array

India Wajib Membayar Impor Minyak dari Rusia Menggunakan Yuan China? Kenapa?

Kewajiban India untuk membayar impor minyak dari Rusia dengan mata uang Yuan China telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi pemerintah India. Kondisi ini telah menimbulkan penundaan pembayaran untuk tujuh pengiriman minyak, menandakan adanya keretakan dalam kerjasama antara negara-negara BRICS. Apa yang sebenarnya terjadi? Simak berita lengkapnya berikut ini!

India Menentang Pembayaran dengan Yuan

india china
Sumber: Brookings Institution

Pemerintah India merasa terganggu dengan kewajiban menggunakan Yuan China untuk pembayaran minyak dari Rusia. Hal ini telah mengakibatkan penundaan pembayaran untuk tujuh pengiriman minyak. Dua pejabat tinggi dari kementerian keuangan India mengungkapkan bahwa negara tersebut merasa terganggu dengan kewajiban menggunakan Yuan China untuk pembayaran minyak.

Kondisi ini muncul di tengah upaya BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. India berhasil menghemat $7 miliar dalam setahun dengan membeli minyak dari Rusia dengan harga yang lebih murah karena sanksi AS.

Namun, produsen minyak Rusia terkemuka mengumumkan bahwa mereka hanya menerima pembayaran dalam mata uang lokal, yaitu Rubel Rusia dan Yuan China. Namun, perselisihan ini tidak mengganggu pengiriman minyak. Perusahaan Rusia seperti Rosneft terus memasok minyak ke perusahaan pengilang milik negara India, yang sedang mencari cara alternatif untuk penyelesaian pembayaran.

India muncul sebagai importir terbesar minyak Rusia tahun ini, dengan perusahaan pengilang membeli minyak mentah dengan diskon setelah beberapa negara Barat menangguhkan impor dari Moskow karena invasi ke Ukraina.

Baca Juga: Bank Sentral India Umumkan Rencana CBDC Rupee Digital

Biaya Konversi Tambahan

impor minyak
Sumber: Outlook India

Sumber dari industri pengilangan mengatakan bahwa pedagang telah siap untuk melakukan transaksi dalam dirham, tetapi penjual Rusia menuntut pembayaran dalam Yuan. Rosneft, Gazprom dan Gazprom Neft tidak merespon permintaan komentar.

Indian Oil Corp, perusahaan pengilang minyak terbesar di negara tersebut, telah menggunakan Yuan dan mata uang lainnya untuk membayar minyak Rusia.

Sementara itu, perusahaan pengilang milik negara lainnya seperti Bharat Petroleum Corp dan Hindustan Petroleum, yang hingga saat ini belum membayar minyak dalam Yuan, juga telah diminta oleh pemasok Rusia untuk membayar menggunakan mata uang China.

Pembayaran dalam Yuan meningkatkan biaya mereka, karena Rupee harus dikonversi terlebih dahulu menjadi dolar Hong Kong dan kemudian menjadi Yuan, proses yang biayanya 2-3% lebih tinggi daripada penyelesaian dalam dirham. “Konversi Rupee ke Yuan menambah lapisan ekstra,” kata sumber pengilangan yang dikutip di atas.

Meski ada ketegangan ini, hubungan antara India dan Rusia tetap kuat. India tetap menjadi importir minyak terbesar dari Rusia, dan kedua negara terus mencari solusi yang dapat memuaskan kedua belah pihak. Namun, situasi ini menunjukkan bahwa kerjasama antara negara-negara BRICS mungkin tidak sekuat yang diperkirakan.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi:

Array