Jeju Island Menuju ‘Kota NFT’ untuk Membangkitkan Ekonomi

Jeju Island Menuju ‘Kota NFT’ untuk Membangkitkan Ekonomi

Pulau Jeju, surga wisata terkenal di Korea Selatan, berada di ambang revolusi digital, mengeksplorasi integrasi NFT ke dalam ekonomi lokalnya. Pendekatan inovatif ini berupaya memanfaatkan teknologi blockchain untuk menata ulang sektor pariwisata dan pertanian, yang berpotensi membuka jalan baru bagi penciptaan nilai di pulau tersebut. Simak berita lengkapnya berikut ini!

Visi Jeju Menjadi ‘Kota NFT’

Inti dari eksplorasi digital ini adalah NFT—token digital unik yang menetapkan kepemilikan aset pada blockchain. Tidak seperti mata uang kripto tradisional seperti Bitcoin dan Ethereum, NFT berbeda karena sifatnya yang tidak dapat dipertukarkan, transparansi, keamanan, dan kelangkaan.

Karakteristik ini membuatnya cocok untuk berbagai aplikasi, mulai dari mengamankan konten digital hingga menegaskan kepemilikan aset dunia nyata. Minat Pulau Jeju pada NFT menandakan langkah strategis menuju inovasi digital. Sebuah acara baru-baru ini yang berfokus pada Aplikasi Blockchain membawa diskusi ini ke garis depan. Diselenggarakan di Balai Samda pemerintah provinsi, sesi tersebut menampilkan Kwon Soo-ho dari Asosiasi Promosi Industri Blockchain Korea.

Kwon berbagi keahliannya tentang blockchain dan NFT, khususnya penerapannya dalam mengembangkan berbagai sektor di Jeju. Pertemuan tersebut, yang dihadiri oleh Gubernur Oh Young-hoon dan perwakilan dari berbagai organisasi lokal, menunjukkan ambisi kolektif untuk meningkatkan ekonomi lokal melalui teknologi blockchain canggih.

Baca Juga: Korea Selatan Teguh Menolak ETF Crypto, Apa Alasannya?

Aplikasi Potensial NFT di Jeju

Diskusi tersebut menyelidiki lanskap Web3 yang berkembang, ditandai dengan desentralisasi dan ekonomi token yang sedang berkembang. Kwon mengusulkan sejumlah aplikasi NFT inovatif untuk Jeju, mulai dari memberi penghargaan kepada pejalan kaki Olle Trail dengan NFT hingga membuat koleksi NFT bertema pariwisata.

dompet crypto korea
Sumber: ISP

Selain itu, ia menyarankan penggunaan NFT untuk mengotentikasi asal produk khusus Jeju, seperti babi hitam dan jeruk Halla-bong yang terkenal, dan untuk merampingkan pertukaran mata uang dan pembayaran.

Visi Gubernur Oh melampaui upaya transformasi digital saat ini, yang bertujuan untuk membangun Jeju sebagai “kota NFT” terkemuka. Lebih jauh, ini dapat mewakili langkah menuju integrasi teknologi Web3 baru di semua aspek operasi provinsi, mulai dari pariwisata hingga perdagangan lokal. Petualangan mendefinisikan Jeju dengan berbagai pengalamannya, mulai dari menjelajahi tabung lava dan mendaki medan terjal hingga berpartisipasi dalam pertanian teh dan panen jeruk keprok.

Selain itu, pulau ini menawarkan museum seni dan permadani budaya yang kaya. Secara keseluruhan, akan menarik untuk melihat apakah semangat petualang pulau itu dapat memanfaatkan NFT untuk mendukung penawarannya yang berbeda.

Baca Juga: Korea Utara Diduga Curi $3 Miliar Aset Kripto untuk Danai Program Nuklir!

Jeju Bertujuan Menjadi ‘Kota NFT’ untuk Merevitalisasi Ekonomi, Meningkatkan Pariwisata, dan Industri Lokal

Rencana ambisius Pulau Jeju untuk memanfaatkan Non-Fungible Tokens (NFT) untuk revitalisasi ekonomi telah menarik perhatian pengamat dalam dan luar negeri. Dengan strategi untuk memasukkan teknologi NFT ke dalam sektor pariwisata, pertanian, peternakan, dan perikanan, pulau ini berupaya memposisikan diri sebagai pelopor dalam transformasi digital ekonomi lokal.

Pengumuman Gubernur Oh Young-hoon baru-baru ini di sebuah forum terkait TI menggarisbawahi komitmen Jeju untuk menjadi ‘kota NFT’, dengan inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan sistem pembayaran bagi pengunjung dan mendukung produsen lokal.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi