Upaya India Membayar Minyak dengan Rupee Gagal, Apa Penyebabnya?

Upaya India Membayar Minyak dengan Rupee Gagal, Apa Penyebabnya?

India berupaya memperluas penggunaan mata uangnya di kancah internasional, namun rencana ambisius ini menemui kebuntuan. Inisiatif untuk membayar impor minyak dengan rupee tidak mendapat sambutan hangat dari para penjual minyak global. Meskipun ada dorongan kuat untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, tantangan yang dihadapi India menunjukkan betapa sulitnya mengubah tatanan keuangan global yang sudah mapan. Simak berita lengkapnya berikut ini!

Resistensi Global Terhadap Rupee

India menghadapi kendala besar dalam usahanya membayar impor minyak dengan mata uang rupee. Para pemasok minyak global menolak pembayaran dalam rupee, mengutip biaya transaksi yang lebih tinggi dan risiko nilai tukar. Karena rupee belum diterima secara luas di pasar global, para penjual lebih memilih mata uang yang lebih stabil dan likuid.

Pada tahun keuangan 2022-2023 yang berakhir pada bulan Maret, tidak ada impor minyak India yang diselesaikan menggunakan rupee. Hal ini diungkapkan oleh Kementerian Minyak India kepada sebuah komite parlemen, menurut laporan dari Press Trust of India. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya dari pemerintah, masih ada hambatan signifikan yang harus diatasi.

Baca Juga: BRICS Bersiap Luncurkan Obligasi Rupee India Pertama: Langkah Menuju De-Dolarisasi?

Gerakan De-Dolarisasi dan Upaya Internasionalisasi Rupee

de-dolarisasi rupee india
Sumber: Civils Day

India bukan satu-satunya negara yang berusaha mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Gerakan de-dolarisasi telah mendapatkan momentum, terutama karena AS menggunakan dominasi dolar untuk memberlakukan sanksi ekonomi terhadap negara-negara seperti Rusia dan Iran. Negara-negara seperti China dan Rusia juga berupaya meningkatkan penggunaan mata uang mereka secara global.

Kelompok negara BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, sedang mempertimbangkan kemungkinan penggunaan mata uang bersama. Sementara itu, Bank Sentral India telah memperkenalkan rekening bank khusus di luar negeri yang memungkinkan importir lokal melakukan pembayaran dalam rupee kepada mitra dagang mereka. Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mendorong penerimaan rupee secara internasional.

Baca Juga: Bank Sentral India Umumkan Rencana CBDC Rupee Digital

Upaya Regional dan Masa Depan Rupee

Selain India, negara-negara lain di kawasan juga berupaya memperkuat posisi mata uang mereka. Indonesia, misalnya, baru-baru ini membentuk satuan tugas untuk memperluas penggunaan mata uang rupiah. Langkah-langkah seperti ini menunjukkan keinginan negara-negara untuk memiliki kontrol yang lebih besar atas ekonomi mereka dan mengurangi ketergantungan pada mata uang asing.

Meskipun ada tantangan, upaya untuk internasionalisasi rupee masih terus berlanjut. India mungkin perlu mempertimbangkan strategi lain dan kerja sama lebih lanjut dengan negara-negara lain untuk mencapai tujuannya. Dengan ekonomi global yang terus berubah, mungkin hanya masalah waktu sebelum mata uang seperti rupee mendapatkan penerimaan yang lebih luas.

Kesimpulan

Kegagalan India dalam membayar impor minyak dengan rupee menunjukkan kompleksitas dan tantangan dalam mengubah sistem keuangan global. Meskipun demikian, upaya ini merupakan langkah penting menuju diversifikasi mata uang dalam perdagangan internasional. Dengan terus berupaya dan berkolaborasi, mungkin suatu hari nanti rupee akan menjadi mata uang yang diterima secara luas di pasar global.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi: