Evergrande Bangkrut, China Terancam Krisis Ekonomi?

Evergrande Bangkrut, China Terancam Krisis Ekonomi?

Evergrande, raksasa properti asal Tiongkok, baru saja diperintahkan untuk dilikuidasi oleh pengadilan Hong Kong. Perusahaan yang terlilit utang sebesar $300 miliar ini gagal mengajukan rencana restrukturisasi yang konkret, sehingga menjadikannya pengembang real estat paling berutang di dunia. Keputusan ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tentang beban utang Tiongkok yang terus meningkat dan berpotensi menyeret negara tersebut ke dalam krisis ekonomi. Simak beritanya disini!

Evergrande Bangkrut, Bagaimana Nasib Utangnya?

ambisi ai china
Sumber: Asia Times

Evergrande memiliki utang sebesar $300 miliar kepada bank dan pemegang obligasi. Dengan dilikuidasinya perusahaan ini, tentu saja menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana nasib utang tersebut. Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa Evergrande berutang sekitar $25,4 miliar kepada kreditor asing.

Sementara itu, total aset perusahaan hanya sekitar $240 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan dengan total kewajibannya. Dengan kondisi keuangan yang tidak sehat ini, pengadilan memutuskan untuk melikuidasi Evergrande. Hal ini dilakukan untuk melindungi kepentingan kreditor dan mencegah kerugian yang lebih besar.

Proses likuidasi akan dilakukan oleh dua orang likuidator yang ditunjuk oleh pengadilan dari firma jasa global Alvarez & Marsal. Prioritas utama mereka adalah untuk memastikan bahwa sebanyak mungkin bisnis Evergrande dapat dipertahankan, direstrukturisasi, dan tetap beroperasi.

Baca Juga: Hong Kong Siap Luncurkan ETF Bitcoin Spot Pertama, Simak Faktanya!

Dampak terhadap Ekonomi Tiongkok

china brics
Sumber: Brookings Institutions

Kebangkrutan Evergrande tentu saja akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Tiongkok. Selama ini, sektor properti menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Tiongkok. Namun, dengan krisis yang dialami Evergrande, sektor ini diperkirakan akan mengalami penurunan. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Tiongkok secara keseluruhan.

Selain itu, kebangkrutan Evergrande juga dapat memicu krisis keuangan di Tiongkok. Perusahaan ini memiliki banyak pinjaman dari bank-bank Tiongkok, sehingga jika Evergrande gagal membayar utangnya, maka bank-bank tersebut akan mengalami kerugian besar. Hal ini dapat memicu krisis kepercayaan terhadap sistem keuangan Tiongkok dan menyebabkan terjadinya penarikan dana besar-besaran.

Baca Juga: Marlin ($POND): Inovasi di Dunia Blockchain yang Membawa Perubahan

Bagaimana Nasib Proyek Properti Evergrande?

Evergrande memiliki banyak proyek properti yang belum selesai di Tiongkok. Dengan dilikuidasinya perusahaan ini, tentu saja menimbulkan kekhawatiran tentang nasib proyek-proyek tersebut.

CEO Evergrande, Shawn Siu, mengatakan bahwa perusahaan akan berusaha untuk melanjutkan operasi dengan lancar dan menyelesaikan pembangunan proyek-proyek properti tersebut. Namun, mengingat kondisi keuangan Evergrande yang tidak sehat, masih belum jelas bagaimana perusahaan ini akan dapat menyelesaikan proyek-proyek tersebut.

Kesimpulan

Kebangkrutan Evergrande merupakan pukulan telak bagi ekonomi Tiongkok. Perusahaan ini memiliki utang yang sangat besar dan memiliki banyak proyek properti yang belum selesai. Dilikuidasinya Evergrande dapat memicu krisis keuangan di Tiongkok dan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Pemerintah Tiongkok perlu mengambil langkah-langkah cepat dan tepat untuk mengatasi krisis ini dan mencegah terjadinya dampak yang lebih besar.

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi