Ethereum di Ujung Tanduk: Mampukah Bertahan di Gelombang Crypto Terbaru?

Ethereum di Ujung Tanduk: Mampukah Bertahan di Gelombang Crypto Terbaru?

Kenaikan biaya gas Ethereum yang tiba-tiba akibat tren NFT baru, Buterin Cards, telah membangkitkan kembali kekhawatiran lama.

Meskipun biaya tersebut cepat kembali normal, insiden ini mengingatkan pada masa ketika Ethereum nyaris tak dapat digunakan di tengah popularitasnya yang meningkat. Kini, dengan potensi pasar crypto yang kembali menggeliat, kesabaran masyarakat mungkin akan diuji.

Kenaikan Biaya Gas: Ujian Kesabaran Pengguna

Pada awal Desember, fenomena NFT Buterin Cards menyebabkan lonjakan biaya gas Ethereum hingga sekitar $10, sebelum akhirnya mereda ke kisaran $1. Namun, kejadian ini mengingatkan pada masa-masa ketika Ethereum hampir tak dapat diakses karena popularitasnya yang melonjak.

Hal ini terjadi pada tahun 2017 dengan Crypto Kitties dan selama kegilaan spekulatif crypto pada tahun 2021. Meskipun teknologi blockchain masih terbilang baru, dan tantangan “trilema blockchain” masih menjadi isu, namun pertanyaan yang muncul adalah apakah masyarakat masih akan bersabar dengan situasi ini.

Baca Juga: Koin-Koin Ini Meroket di Pasar Crypto, Siapa Saja Mereka?

Peningkatan biaya gas tidak hanya menimbulkan masalah finansial, tetapi juga menunjukkan ketidaksesuaian filosofis. Ethereum dijanjikan sebagai teknologi yang lebih murah dan aman dibanding sistem keuangan konvensional.

Namun, kenyataannya, banyak pengguna baru Ethereum menemukan bahwa biaya gas yang diusulkan melebihi nilai transaksi yang sebenarnya.

Layer-2: Solusi atau Hanya Pembenaran Sementara?

donasi ethereum

Paul Brody, eksekutif Ernst & Young dan penulis buku “Ethereum for Business”, tidak khawatir dengan masalah biaya gas yang berkelanjutan. Ia menunjuk pada ekosistem layer-2 yang berkembang, yang memungkinkan pengguna melakukan transaksi di blockchain tambahan seperti Optimism dengan biaya yang jauh lebih rendah.

Transaksi ini kemudian digabungkan dan dicatat di blockchain Ethereum utama, memberikan catatan yang tidak dapat diubah. Meskipun teknologi layer-2 telah berkembang pesat sejak tahun 2021, terutama setelah Ethereum beralih ke model proof of stake, pengalaman menggunakan layer-2 masih dianggap rumit dan membingungkan bagi pengguna non-teknis.

Brody mengakui bahwa pengalaman L2 masih “sangat buruk”, tetapi ia yakin ini hanya situasi sementara dan akan segera diperbaiki dengan desain yang lebih baik. Sementara itu, ia menambahkan bahwa Ethereum tetap menjadi platform kontrak pintar dominan bagi perusahaan, dan pertumbuhannya akan terus berlanjut.

Persaingan di Dunia Crypto: Ethereum Masih di Puncak?

Meskipun ada klaim dari pesaing seperti Solana yang menawarkan biaya gas lebih rendah, Ethereum masih memegang posisi terdepan sebagai platform kontrak pintar pilihan dunia.

Namun, jika lonjakan harga Ethereum kembali terjadi di masa boom crypto berikutnya, kesabaran masyarakat mungkin akan mulai terkikis. Kunci dari keberhasilan Ethereum ke depannya adalah bagaimana mereka mengatasi masalah biaya gas yang tinggi dan meningkatkan pengalaman pengguna di layer-2.

Paragraf Penutup

Ethereum kini berada di persimpangan jalan, di mana setiap langkahnya akan menentukan masa depannya di industri crypto. Dengan tantangan yang ada, Ethereum harus berinovasi dan memperbaiki pengalaman penggunanya untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar.

Baca Juga: Harga Aptos Berisiko Melemah? Token Senilai $195 Juta Segera Beredar!

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer:
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi