Terungkap! Ekonomi Crypto Bawah Tanah di Kamboja yang Dipenuhi Kontroversi

Terungkap! Ekonomi Crypto Bawah Tanah di Kamboja yang Dipenuhi Kontroversi

Kamboja menjadi sorotan dengan berkembangnya ekonomi crypto yang beroperasi di bawah radar. Tether, mata uang crypto yang diklaim didukung oleh US Treasury Bills, menjadi pilihan utama dalam transaksi yang terkait dengan aktivitas China. Namun, banyak pihak mempertanyakan keabsahan dan keamanan dalam penggunaan crypto ini.

Ekonomi Crypto Bawah Tanah

Di Kamboja, pertukaran crypto beroperasi layaknya bank-bank konvensional, namun tanpa regulasi yang jelas. Seorang pemilik bursa crypto di Phnom Penh mengakui bahwa mereka menjalankan layanan keuangan paralel.

Meskipun menawarkan solusi digital untuk masalah aliran uang, risiko penipuan dan skema Ponzi tetap mengintai, menurut Ngo Minh Hieu, ahli keamanan siber. Kegiatan ini tidak hanya terjadi di bursa fisik, tetapi juga melalui platform online seperti Huione Pay.

Baca Juga: Pembayaran Berbasis Blockchain: Transaksi Lintas Batas Makin Mudah dengan Kerjasama Alipay!

Platform ini memiliki cabang yang menyerupai bank dan menyediakan layanan pertukaran USDT. Selain itu, Huione juga mengelola jaringan saluran Telegram, tempat transaksi crypto berlangsung dengan berbagai penawaran aset.

Peringatan dan Risiko

dominasi tether
The image created by AI

Meskipun Tether menarik banyak pengguna, kekhawatiran akan keamanan dan potensi penipuan tetap ada. Hacking terhadap bursa dan dompet crypto menjadi risiko signifikan, sebagaimana diungkapkan oleh Ngo Minh Hieu.

Di sisi lain, Jeremy Douglas dari UNODC menekankan bahwa kelompok kriminal menggunakan crypto, khususnya USDT di platform TRON, untuk kegiatan ilegal. Penggunaan crypto di industri kasino Kamboja juga menjadi perhatian.

Meskipun pemerintah telah melarang perjudian online sejak 2020, praktik ini masih berlangsung. Ben Lee dari IGamiX Management and Consulting menyoroti bahwa kasino lebih mementingkan pendapatan daripada sumber uang yang beredar.

Regulasi dan Pengawasan

Bank Nasional Kamboja telah mengadopsi teknologi blockchain untuk pembayaran QR, namun crypto tetap dilarang sejak 2017. Meskipun demikian, penggunaan crypto dalam kasino dan situs judi online terus berlangsung. Laporan UNODC memperkirakan bahwa antara $7,5 miliar hingga $12,5 miliar uang ilegal beredar di Asia Tenggara melalui crypto.

Pemerintah dan lembaga penegak hukum di kawasan ini dianggap belum siap menghadapi perkembangan ini. Jonny Ferrari, seorang pengusaha AS yang berkecimpung di industri kasino Kamboja, menambahkan bahwa crypto memungkinkan pencucian uang melalui perusahaan-perusahaan cangkang.

Paragraf Penutup

Kasus ekonomi crypto bawah tanah di Kamboja mengungkap sisi gelap dari revolusi digital yang sedang berlangsung. Meskipun menawarkan kemudahan transaksi lintas batas, tantangan regulasi dan keamanan menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Ke depannya, pengawasan yang lebih ketat dan edukasi bagi pengguna menjadi kunci untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Baca Juga: Mitra Ripple Travelex Berkolaborasi dengan Bank Sentral Kamboja untuk Memperdagangkan Riel!

Ikuti kami di Google News untuk mendapatkan berita-berita terbaru seputar crypto. Nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan beritanya.

*Disclaimer:
Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi