Biaya Transfer Rata-rata Bitcoin Naik 122% dalam 10 Hari! Penambang Bitcoin Cuan Hingga Rp520 Juta!

Biaya Transfer Rata-rata Bitcoin Naik 122% dalam 10 Hari! Penambang Bitcoin Cuan Hingga Rp520 Juta!

Data statistik menunjukkan bahwa biaya transfer pada jaringan Bitcoin telah meningkat 122% sejak akhir Januari 2023 lalu.

Hal ini dikarenakan biaya transaksi rata-rata transfer Bitcoin naik dari $0,767 menjadi $1,704 per transaksi atau setara dengan masing-masing Rp11.581 dan Rp25.730 ($1 = Rp15.100).

Apa yang jadi penyebab kenaikan biaya transfer rata-rata Bitcoin ini? Simak informasinya seperti dilansir laman The Bit Times berikut ini.

Kenaikan Biaya Transaksi Bitcoin Bikin Penambang Bitcoin Cuan 189%!

Biaya jaringan Bitcoin atau biaya rata-rata untuk mentransfer BTC alami kenaikan mencapai 122% selama minggu pertama Februari 2023.

Pengguna umumnya membayar biaya yang lebih rendah daripada biaya transaksi Bitcoin saat ini. Pada tanggal 29 Januari 2023, penambang Bitcoin dilaporkan memperoleh 0,83 BTC atau setara denagn Rp275 juta dari biaya transaksi Bitcoin.

Setelah 10 hari berselang atau pada tanggal 7 Februari 2023, biaya harian transaksi Bitcoin yang diperoleh penambang Bitcoin melonjak hingga 2,442 BTC atau senilai Rp795 juta!

Kenaikan angka keuntungan yang didapatkan penambang Bitcoin antara tanggal 29 Januari dan 7 Februari 2023 ini mewakili kenaikan sebesar 189% atau alami peningkatan penghasilan hingga Rp520 juta.

Harga Spot Bitcoin Lebih Rendah Dibanding Biaya Produksi Bitcoin

Harga Spot Bitcoin Lebih Rendah Dibanding Biaya Produksi Bitcoin
macromicro.me

macromicro.me

Kenaikan harga transaksi Bitcoin ini dinilai menguntungkan bagi penambang mengingat harga spot BTC lebih rendah dalam 24 jam terakhir sedangkan biaya produksi BTC lebih tinggi. Data statistik pada 7 Februari 2023 menunjukkan bahwa biaya produksi BTC, menurut grafik macromicro.me, adalah sekitar $24.260 atau setara dengan Rp367 juta.

Di sisi lain, nilai spot BTC pada hari yang sama berada di bawah $23.000 atau lebih rendah dari Rp348 juta. Tak heran jika kondisi ini membuat banyak perusahaan mining Bitcoin memutuskan gulung tikar. Beberapa perusahaan mining BTC telah menyatakan bangkrut atau mencari bantuan keuangan untuk tetap bertahan di tengah situasi bear market selama tahun 2022 yang lalu.

Baca Juga: Bukan Hanya Uang, Penambangan Bitcoin Membawa Dampak Baik Bagi Negara Ini

Namun, berbeda halnya dengan perusahaan Bitcoin mining bernama CleanSpark yang satu ini. CleanSpark baru saja umumkan rencananya untuk memperluas operasi bisnis mining BTC di negara bagian Georgia.

Rencana ekspansi tersebut akan menambah kapasitas penambangannya meskipun pasar bearish sedang berlangsung. Apa yang mendorong CleanSpark nekat memperluas bisnis mining Bitcoin-nya di negara bagian lain? Simak informasi selengkapnya mengenai CleanSpark Ekspansi Bisnis Mining BTC di sini.

*Disclaimer:

Konten ini bertujuan memperkaya informasi pembaca. Selalu lakukan riset mandiri dan gunakan uang dingin sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli dan investasi aset crypto menjadi tanggung jawab pembaca.

Referensi: